Sejarah Desa Pelencau

not image
Gambar: Sejarah Desa Pelancau ( Sandi Pramadani ) Sumber: https://pelancau.masel.my.id/

Nama-nama nenek moyang Desa Pelancau

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat, leluhur atau nenek moyang Desa Pelancau terdiri atas:

  1. Uku Ilau Keluan
  2. Uku Unyat Umpung
  3. Uku To Ilau
  4. Uku Danggi
  5. Uku Meran Antah
  6. Uku Iman
  7. Uku Kree Iman
  8. Ipu Kree
  9. Apui Ipu

Nama-nama tersebut merupakan tokoh-tokoh leluhur yang menjadi bagian penting dalam sejarah masyarakat Dayak Punan di wilayah hulu Sungai Malinau.

Latar belakang

Pada masa nenek moyang, yaitu pada zaman Uku Ilau Keluan, Uku Unyat Umpung, Uku To Ilau, dan Uku Danggi, belum terdapat pembagian wilayah adat sebagaimana yang dikenal saat ini. Seluruh kelompok masyarakat yang mendiami hulu Sungai Malinau hidup berdampingan dan memanfaatkan wilayah tersebut secara bersama-sama. Sungai, hutan, dan sumber daya alam dianggap sebagai milik bersama seluruh masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Malinau.

Pada masa itu Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Ketika pemerintah kolonial memasuki wilayah hulu Sungai Malinau, mereka mendapati masyarakat Dayak Punan masih menjalani kehidupan secara berpindah-pindah mengikuti ketersediaan sumber makanan di hutan.

Untuk memudahkan penataan wilayah dan pelayanan kepada masyarakat, pemerintah kolonial kemudian menetapkan beberapa lokasi permukiman tetap. Dari kebijakan tersebut terbentuk tiga desa di wilayah hulu Sungai Malinau, yaitu Desa Metut, Desa Pelancau, dan Desa Long Lake. Ketiga desa tersebut menjadi cikal bakal permukiman masyarakat Dayak Punan yang dikenal hingga sekarang.

Berdirinya Desa Pelancau

Setelah Desa Pelancau dibentuk, masyarakat memilih Uku Iman sebagai kepala desa pertama. Beliau dipercaya untuk memimpin masyarakat sekaligus mengumpulkan warga Dayak Punan yang masih hidup berpindah-pindah di dalam hutan agar menetap dalam satu kawasan.

Permukiman pertama Desa Pelancau berada di Sungai Peluncu atau yang kemudian dikenal sebagai Sungai Pelancau. Di tempat inilah masyarakat mulai belajar hidup menetap dan membuka ladang sebagai sumber penghidupan.

Pada masa itu kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada hasil hutan. Mereka lebih sering berburu, mencari ikan, meramu, serta mengambil sagu talang sebagai makanan pokok daripada bercocok tanam. Tradisi memanfaatkan hasil hutan tersebut masih tetap dipertahankan hingga sekarang sebagai bagian dari budaya masyarakat Dayak Punan.

Perjalanan perpindahan Desa Pelancau

Seiring berjalannya waktu, Uku Iman memasuki usia lanjut. Setelah beliau meninggal dunia, kepemimpinan desa diteruskan oleh putranya, Uku Kree Iman, yang mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat.

Pada masa kepemimpinannya jumlah penduduk Desa Pelancau semakin bertambah sehingga permukiman di Sungai Peluncu tidak lagi mampu menampung seluruh warga. Atas pertimbangan tersebut, masyarakat dipindahkan ke wilayah Kalimpak.

Uku Kree Iman memimpin desa hingga akhir hayatnya dan dikenang sebagai pemimpin yang bijaksana serta dekat dengan masyarakat. Setelah beliau meninggal dunia, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Laing Akai yang kemudian memindahkan kembali permukiman Desa Pelancau ke Bengawat mengikuti perkembangan jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat.

Perjalanan Desa Pelancau terus berlanjut dengan pergantian beberapa kepala desa, yaitu Unyat Iman, Ungket Iman, Yahya Laing, Yakub Ungket sebagai pejabat sementara, hingga akhirnya Ibung Unyat yang menjabat sebagai Kepala Desa Pelancau sampai saat ini.

Selama perjalanan tersebut masyarakat beberapa kali berpindah tempat tinggal, mulai dari Sungai Peluncu, Kalimpak, Bengawat, Lore, kembali ke Bengawat, kemudian ke kawasan Sungai Keramu'u, hingga akhirnya menetap di Mutai akibat banjir besar yang menghancurkan permukiman di sepanjang tepian Sungai Malinau.

Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Desa Pelancau dan menunjukkan kemampuan masyarakat Dayak Punan dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan serta perkembangan zaman tanpa meninggalkan adat istiadat dan nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan oleh para leluhur.

Bagikan post ini: